Fiqih Muamalah

Pengertian Akad Istishna

Secara ringkas akad “ISTISHNA” itu adlh Skema Pesan Bangun. Ini termasuk salahsatu skema bisnis yg diperbolehkan dlm syariat dan masih ada skema bisnis yg lain (murabahah, salam dst).

Dalil yg digunakan dlm skema ISTISHNA adlh ketika Rasul memesan cincin dan mimbar (detail bisa googling ).

Istishna’ adalah bentuk ism mashdar dari kata dasar istashna’a-yastashni’u. Artinya meminta orang lain untuk membuatkan sesuatu untuknya. Adapun dalam istilah syar’i,istishna’ termasuk dalam jual beli (al bay’) di mana para ulama fikih menggolongkan bay’ istishna’ ke dalam bay’ salam. Bay’ Salam adalah pembelian barang yang diserahkan di kemudian hari sedangkan pembayaran dilakukan di muka.

Dalam pelaksanaannya pembeli melakukan pembayaran penuh di muka sementara penjual akan menyerahkan barang secara penuh di akhir. Biasanya komoditas yang ditransaksikan adalah komoditas pertanian seperti padi, buah-buahan, dan sebagainya.

Adapun bay’ istishna’ adalah pembelian barang dengan pembayaran bertahap sesuai dengan progres pembuatan barang pesanan misalkan dengan memberikan uang muka di depan dan pelunasannya di akhir setelah barang pesanan selesai dibuat atau dicicil tahap demi tahap tertentu atau seluruh pembayaran dilakukan di belakang.

Transaksi jenis ini biasanya untuk produk manufaktur seperti gedung, mobil, perabotan rumah dan sebagainya.

Hukum bay’ istishna’ adalah boleh atau mubah berdasarkan firman Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang tidak di tentukan, hendaklah kamu menuliskannya….” (TQS. Al-Baqarah [2] :282)

Dalam istishna’, bahan baku dan pekerjaan penggarapannya menjadi kewajiban pembuat barang. Jika bahan baku disediakan oleh pemesan dan dia meminta dibuatkan barang tertentu dengan bahan baku tersebut, maka akadnya berubah menjadi ijarah bukan jual beli. Sementara manufaktur  hukumnya juga boleh dan telah dinyatakan oleh Sunnah.

Rasulullah SAW pernah membuat cincin. Anas ra menyatakan: “Rasulullah SAW pernah membuat sebuah cincin” (HR. Bukhari).

Rasul SAW juga pernah membuat mimbar. Sahal ra berkata : “Rasulullah SAW pernah mengutus seseorang kepada seorang wanita untuk memerintahkan putranya yang tukang kayu agar membuat untukku” (HR. Bukhari).

Muslim terutama pengusaha Muslim di masa sekarang akan berinteraksi dengan kegiatan transaksi jual beli dan manufaktur seperti dijelaskan di atas.  Oleh karena itu Syeikh Taqiyuddin An Nabhani secara khusus menuangkan pembahasan tersebut dalam bab Al Bay’ Wal Istishna’ di buku Nidzam Iqtishadiy Fil Islam.

Dalam bukunya Nidzam Iqtishadiy fil Islam beliau mengingatkan bahwa walaupun industri manufaktur telah berkembang menjadi industri modern, bukan berarti hukum-hukum Islam tidak mengatur aspek-aspek kegiatan manusia di dalamnya.

Industri modern maupun tradisional yang manual tidak akan lepas dari hukum-hukum kerja sama usaha (syirkah), jasa, jual beli dan perdagangan luar negeri. Saat seseorang ingin mendirikan industri manufaktur modern, hampir bisa dipastikan sebagian besar industri didirikan dengan kerja sama modal dari sejumlah orang.

Bila kondisinya demikian maka berlaku hukum kerja sama usaha islami (Asy Syirkah Al Islamiyah).  Adapun dari segi administrasi, kerja dan proses pembuatan barang berlaku hukum-hukum seputar ijarah atas pekerjanya, sementara dari segi pengelolaan hasil produksi akan terikat dengan hukum-hukum jual beli dan perdagangan luar negeri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top